Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan

Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan ~ Mendampingi anak-anak adalah kegiatan sehari-hari saya. Belajar dari rumah ketika pandemik cukup bikin saya pusing. Ujian mental sebagai ibu tuh luar biasa deh di masa-masa itu. Ada yang merasa sama nggak sih? Belum lagi harus menata hati hehehu. Sebenarnya bukan gagal sih, perjalanan kan masih panjang karena doi masih duduk di sekolah dasar. Alhamdulillah Allah kasih pelajaran ini buat saya. Bagaimana ketika anak tidak lulus atau nilainya tidak sesuai harapan? Kegagalan bila disikapi dengan benar malah cukup banyak nilai tambahnya. Terkadang kita perlu mencicipi kegagalan untuk sukses melebihi yang kita kira.


Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan


YAA, motivasi-IN anak sendiri gapapa ya :)). Singkat cerita anak pertama kami bersekolah di SDIT, jujurly saya nggak gugling banyak dan memang informasi di Tangerang khususnya Kota Tangerang masih sedikit banget. Bisa dihitung dengan jari deh blogger di Tangerang. Terlebih juga di Tangerang kan banyaknya sekolah negeri, beda dengan Tangerang Selatan yang sekolah swastanya terbilang buanyak. Sewaktu memutuskan sekolah di sd swasta tersebut, alasannya karena sekolahnya terkenal bagus dan beberapa kerabat juga menyekolahkan anaknya di sana. Reviewnya memuaskan. Namun setelah saya nyemplung, ada beberapa hal dari sekolah yang saya rasa kurang maksimal.

Okay, cukup cerita tentang sekolahnya dan bakalan saya review sih suatu hari nanti #ehh kok suatu hari nanti?!

Kembali pada kegagalan, cerita saat kakak gagal menempuh ujian tahfidz juz 30 di kelas 2 sd. Menurut saya kalau hanya untuk standarisasi dan beragam formalitas nggak perlu ada ujiannya, ah tapi mana mungkin untuk orang-orang hamba standarisasi. Justru yang paling perlu menanamkan cinta dan suka menghafal Al-Qur'an, itu poinnya. Untuk teknis bagaimananya, sebisa mungkin tugas pengajar di sekolah yang bersinergi dengan orang tua di rumah. 

Saya sebagai orang tua yang merasa perlu juga monitor anak. Saya nggak pernah melepas anak-anak dalam belajarnya karena masih kelas kecil ya. Bagi saya, sekolah itu bukan tempat laundry karena anak-anak bukan cucian kotor :D Saya pun terjun mengajari anak-anak bila mereka kesulitan dalam belajarnya. 

Dan perlu pengajar swasta juga tau kalau nggak semua orang tua murid yang menyekolahkan anaknya di swasta itu hanya ingin cuci tangan. #ehh kan curcol. Saat pandemik gimana sulitnya mendorong anak-anak tetap fokus menghafal, cranky. Ya udahlah pasti juga udah pada tau kan?. Alhamdulillah sabtu lalu kakak berani untuk ujian yang kedua dan tinggal menunggu hasilnya. Masya Allah, strong tapi saya juga tau dia kecewa, dia agak lelah. Kenapa kok udah berusaha tapi nggak lulus. Saya berusaha memberi pengertian, dan memang pengujinya terbiasa dengan anak-anak kelas 6 jadi perlakuan lebih ketat, masih single juga kemungkinan, sehingga kurang memahami penderitaan emak :P. Tapi itu nggak penting haha.


Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan


Menghibur Anak Adalah Terpenting

Kata-kata hiburan pertamanya adalah "berarti Allah sayang kakak, kakak harus murojaah lagi". Itu kata-kata yang dilontarkan pengujinya. Dari situ kakak udah tau kalau dia tidak lulus dan nggak perlu menunggu waktu lama seminggu kemudian suratnya pun tertulis demikian. Saya mencoba menghibur diri sendiri terlebih dulu, karena kakak kan lebih banyak saya yang pegang ketimbang guru-gurunya saat pandemik untuk hafalannya. Berdamai dengan keadaan barulah saya menghibur anak. Orang tua yang anaknya icip-icip kegagalan kudu banget berdamai dulu dengan keadaan.


Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan


Menyikapi Kegagalan

Pasti ada maksudnya kenapa dikasih gagal. Tapi tuh hikmahnya kadang ada yang nggak benar-benar kita tau ya. Menyikapi kegagalan, apakah dengan menyalahkan? apakah lari? Saya jadi cerita ke anak-anak tentang Thomas Alva Edison yang gagalnya sampai 100 eh 1000 kali ya huaa. Banyak amir yakaaan. Sungguh ku nggak tau, apa shanggup kalau jadi emaknya Thomas Alva Edison. Berharapnya suatu hari nanti kalau kakak gagal dan saya udah nggak ada, dia bisa melewatinya dengan baik dan menjadi anak sholehah yang kuat.


Membangun Mental Anak

Benar-benar ujian mental sekaligus kesabaran buat emak juga. Malah jadi bersyukur kakak mencicipi kegagalan di usia muda belia. Ketika temannya nanya, "kan udah ujian, berarti ujian yg juz 29 ya?" Kakak harus bisa menjawab dengan apa adanya, jujur bahwa dia belum lulus waktu itu. Memposisikan sebagai anak, kalau saya gagal apakah enak bila dimarahi?. Mental anak saat gagal bila dimarahi dia akan semakin rapuh nggak sih. Ygy, coba bayangin aja kalau kita gagal dan malah disalahkan, kayak mana hancur hatinya? Sehingga perlu dukungan positif orang tua demi membangun mental anak.


Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan
nggak mau difoto



Menjadi Belajar Lebih Banyak

Ungkapan yang sering kita dengar, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Apakah berlaku untuk anak zaman now yang terbiasa serba instan? 😄. Dari mencicipi kegagalan kemarin, kami berdua bisa belajar lebih banyak dan mengenal karakter lebih mendalam. Selaku orang tua, saya ingin antar dia sampai suksesnya. Membantu anak fokus pada kelebihan yang dipunya dan meminimalisir kelemahannya.



Ketika Anak Mencicipi Setitik Kegagalan


Oh well, zaman now tantangan semakin berat ya. Kesuksesan orang bisa ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari gadget, akses media sosial yang cukup banyak bahkan deras sekali. Menyiapkan mental mereka supaya nggak insekyuuuur. Aduh semoga bisa. Amiin. Sekian curahan hati akoh haha. Tulisan ini jadi perdana postingan tema parenting bareng beberapa blogger lainnya. Semoga bisa diambil manfaatnya. Terima kasih telah membaca.

Komentar

  1. Yup, ada pepatah kegagalan adalah sukses yang tertunda. Dari kegagalan yang ada, diharapkan tidak patah semangat, justru makin giat belajar dari kegagalan tersebut.
    Sebagai ortu harus bijak nih, jangan sampai anak gagal terus malah dimarahi nanti anaknya malah makin down *sebagai pengingat buat diriku sendiri juga sebagai ortu, masih harus banyak belajar terus dan terus :D

    BalasHapus
  2. Mudah dicurhatkan sepanjang ini namun ku tahu prosesnya begitu panjang kali lebar kali tinggi. Anakku bisa uring-uringan saat salah jawab apalagi kuis kahoot tuh. Hahahah. Emaknya melipir aja deh healing daripada kena semprot

    BalasHapus
  3. Memang perlu memahamkan ke anak pelan-pelan tentang kegagalan ini, karena siapa sih manusia yang mau gagal? Paling tidak, dia akan belajar nanti sampai dewasa, bahwa yang kita lakukan itu akan semuanya berhasil dan sukses.

    BalasHapus
  4. Aku sampai pernah berpikir tidak ingin memasukkan anak ke sekolah berbasis agama karena tidak ingin pengajaran agama terformalisasi. Pengajaran2 ketat yang justru membuat anak kehilangan "ruh" dan cinta kasih pada Tuhan. Tapi semoga itu hanya kekhawatiranku saja sih ya mbak... faktanya anakku skrg juga masuk sekolah yauasan katholik.

    BalasHapus
  5. Iya bener. Anak jaman now pun mesti diajarkan tentang kegagalan, mengalami kegagalan supaya mentalnya kuat.

    Semangat ya Kakak, lain kali ujiannya bisa diulangi lagi. Insyaallah bakal lulus!

    BalasHapus
  6. Mbak hiks pasti kakak sedih ya. Tapi hebat lho bisa hafalan juz 30. Saya saja belum hafal hiks. Sdit memang berat tampaknya. Ada temenku pas praktik psikologi untuk menjadi psikolog dia pkl gitu datengi siswa2 di berbagai sekolah dan tercengang dengan standar belajar dan jam belajar anak2 sdit

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah ya mbak, ada kesempatan memahamkan arti sebuah kegagalan. gagal gak berarti akhir segala-galanya, justru mungkin ini waktunya instropeksi dan berusaha lebih bersungguh-sungguh lagi untuk hasil yang lebih baik. benar banget mbak, salah satu tanda Allah sayang sama kita adalah memberikan kita ujian di dunia agar kita senantiasa selalu brsyukur dan sabar.

    BalasHapus
  8. Memang anak harus belajar menerima getirnya kegagalan atau kekalahan yah mbaak. Anak aku sering kalo abis main futsal kalah sedihnya minta ampun, tapi jadi makin semangat lagi latihannya. Proses lebih penting dari pada hasil kan yaah

    BalasHapus
  9. beberapa hari lalu sempet baca artikel parenting tentang ini juga mbak. akan ada masanya anak2 mengalami kegagalan dan that's life jadi jangan dimarahin atau bahkan menghindarkan anak dari kegagalan. biar dia merasakan kaya gimana gagal tapi tentunya kasih semangat kasih mtivasi hiburd dia dan ajak untuk segera bangkit. insyaallah kegagalan bikin anak jadi kuat ya mbak. semangat terus hafalannya ya nak

    BalasHapus
  10. Semakin ke sini, mendampingi anak2 juga tantangan berat agi oertu. Ngga cuma mendampingi saat emreka berhasil tapi juga memberi dukungan, motivasi, dan semangat saat mereka gagal. Bagaimana bisa membangkit semangat mereka untuk tak berhenti berjuang. Semangat ya mbaa

    BalasHapus
  11. Cakep mbak, emang ada saatnya anak mencicipi kegagalan, sebagai ortu kita jangan memperkeruh dengan menunjukkan wajah kecawa atau bahkan marah. Kasian anaknya.
    Soalnya ada ortu yang kalai anaknya gagal suka gitu, moga kita gak.
    Kegagalan penting diciicpi anak supaya dia paham kalau hidup ini tantangannya banyak gak hanya yang bagus2 aja yang akan terjadi padanya ya. Dengan begitu biasanya dia ada semangat juang utk jd lbh baik lagi yaa.

    BalasHapus
  12. Hebatnya anaknya di usia muda sudah berusah amaksimal untuk menghapal al Quran ya mba. Semoga Allah mudahkan jalannya. Dan kita sebagai ortu hanya bisa tetap bimbing, doakan dan semangati ya mba. Ada menang, ada kalah :)

    BalasHapus
  13. betul banget mba.. hidup tidak selamanya manis dan kegagalan bukan berarti akhir dari segalanya. Ada pengalaman berharga dan hikmah besar yang kita dapatkan darinya

    BalasHapus
  14. aku tuh kepikiran lho kalo anakku mengalami kegagalan, takut dia siap gak ya menghadapinya

    BalasHapus
  15. Inspiratif mbak
    Memang sebagai orang tua kita harus siap ya mbak, dengan beragam kondisi anak
    Termasuk saat anak mengalami kegagalan
    Dari kegagalan, anak bisa belajar banyak hal

    BalasHapus
  16. Bersyukur ya mbk kalau anak anak belajar kegagalan dari dini. Selalu ada hikmah dibalik setiap kegagalan

    BalasHapus
  17. Ketika anak mengalami kegagalan, ibu atau ayah dan kalo bisa keduanya bisa menjadi tempat anak mengungkapkan isi hatinya. Aku justru menganggap kegagalan yang dialami seorang anak itu mesti terjadi. Kalo anak nggak pernah gagal takutnya ketika suatu hari ngalami, dia nya nggak siap. Dari kegagalan menjadikan anak belajar untuk bangkit lagi dan semangat melakukan yang lebih baik lagi

    BalasHapus
  18. Mendampingi anak dalam menghadapi kegagalan ini PR banget sebenarnya. Jangan anak saya aja ibunya suka baper. Sika kebawa suasana. Tapi berusaha tegar kalau depan anak. Semoga kita bisa melaluinya ya

    BalasHapus
  19. Klo boleh memilih...pasti ortu pemgin anak berhasiiillll mulu ya mba.

    Tapi setuju bngt klo anak juga harus berlatih legowo dgn trima kegagalan

    BalasHapus
  20. Semangat terus untuk anaknya ya mbak. Terus coba sampe berhasil. Jadi orang tua kudu banyak belajar terutama yg menyangkut kehidupan

    BalasHapus
  21. Membesarkan hati anak ketika menerima kegagalan emang tidak semudah menulis atau mengucapkan ya maak...sungguh tdk mudah tapi pelukan ibu menenangkannya. Kalau pengalaman saya, saya peluk puk puj puk sambil didoakan hatinya bisa menerimanya...

    Langkah berikutnya membelikan yg dia suka misalkan es cream kesukaannya biat adem hatinya, berijurnya mkn tanya dia pengen apa lagi biar happy.

    BalasHapus
  22. Anak-anak juga sesekali perlu mengalami kegagalan, supaya tahu ga semua bisa dicapai dengan mudah, ada hal yang memang harus dicapai dengan effort lebih. Melalui kegagalan anak bisa belajar mengevaluasi diri, belajar problem solving, dsb

    BalasHapus
  23. sebagai orang tua kita harus memberanikan melepas anak anak kita bertumbuh ya mba, termasuk ketika anak anak mendapatkan kegagalan biarkan merela belajar mengatasinya sendiri

    BalasHapus
  24. Kegagalannya bisa menjadi titik balik lebih baik. Dari kegagalan itu, anak akan ada hal yang dipelajarinya.

    BalasHapus
  25. Yah, kegagalan itu kan bagian dari kehidupan manusia. Jadi, kalau anak mengalami kegagalan sih bukan sebuah hal yang perlu dikhawatirkan. Bapak ibunya saja pasti pernah gagal, masa anak nggak boleh gagal.

    Justru kegagalan bisa jadi bahan pelajaran, bukan cuma buat anak, tetapi juga buat kedua orangtuanya sehingga di masa depan si anak jadi berkembang dan lebih baik, begitu juga orangtuanya

    Tidak ada manusia sempurna, termasuk anak dan orangtua. Kegagalan anak pada dasarnya adalah kegagalan tim secara keseluruhan, termasuk orangtuanya.

    Anak saya sendiri berulangkali mengalami kegagalan dalam urusan sekolah. Buat saya sih tidak masalah karena itu adalah bagian dari proses dan bagian dari usaha mencapai tujuan bahwa ia suatu saat akan bisa survive dalam kehidupannya

    Itu menurut saya sih mbak

    BalasHapus
  26. Iya, pengalaman buat anak ya merasakan sebuah kekecewaan, walaupun sudah berusaha masih ada kemungkinan tidak berhasil, tapi yang patut kita hargai tak hanya hasil tapi juga proses dan perjuangannya jadi semangat ya kiddos!

    BalasHapus
  27. Kita yang orangtua saja rawan insekyur apalagi anak ya Mbak. Dan memang harus bisa menghibur anak saat ia mengalami kegagalan. Ini akan menjadi suar bagi anak saat mengalami kegagalan di lain waktu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Hai, terima kasih sudah mampir di maming story. Yuk leave comment. Semoga bermanfaat ^^

Mohon maaf komentarnya dimoderasi dulu ya 🙂
Twitter / IG : @uciggg (sila follow yaa ^^)