Covid 19 di Klaster Keluarga

by - July 21, 2021

COVID 19 di Klaster Keluarga - Rumah adalah tempat ternyaman. Gimana ceritanya kalau ada salah satu anggota keluarga yang terkena COVID 19? Waktu itu saya menonton televisi membahas klaster keluarga. Dokter anak bilang, kasus COVID pada anak meningkat. Rasanya bosen nggak sih denger berita tentang COVID. Bosen tapi ya gimana ya, kalau dirasa mengganggu kesehatan mental, bisa kok mengontrolnya tapi jangan sampai jadi abai ya. Klaster keluarga memang lagi rameee, buat teman-teman dan keluarganya yang sedang sakit, semoga Allah angkat ya penyakitnya dan segera sehat wal afiat kembali, amiin, Ya kali ini mau curhat-curhat lagi sih, bukan tulisan  yang tips cegah klaster keluarga atau apa, cuma mau ngelist apa aja sih hal yang harus kita perhatikan di masa pandemik kayak sekarang ini.


Cegah-Covid-19-di-Klaster-Keluarga



Ngomongin klaster keluarga, orang terdekat juga pernah kena. Waktu itu qadr Allah bapak mertua positif, adik ipar juga sedang positif. Hanya ibu mertua yang negatif. Nggak kebayang deh, ibu yang juga ada penyakit diabetes. Merawat dua orang sakit. Semua ikut khawatir. Itu juga kejadiannya ketika RS sedang penuh dan setelahnya baru PPKM darurat. Nggak sampai 2 minggu, hasil bapak udah negatif. Alhamdulillah. Bapak dan ibu memang telah vaksin AZ dosis -1. Alhamdulillah ibu hanya masuk angin dan kembali sehat. Kalau bukan Allah yang menghendaki ibu sehat, ya Allah. Alhamdulillah juga bapak dan adik bisa isoman di rumah. Dan sehat kembali.

Klaster keluarga menyedihkan banget. Kalau cek-cek berita sih DKI optimis herd immunity dapat tercapai pada Agustus 2021. Semoga secepatnya ya. Jadi ayo semangat vaksin. Biar cepat selesai wabah ini. Kan juga vaksin ini salah satu bentuk ikhtiar dan wujud Sami’na Wa Atho’na” yang artinya kami mendengar dan kami taat. Sebagai muslim harus taat pada ulil amri, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dan vaksin pun udah halal. Ada kah yang membuat ragu lagi? Yuk, bijaksana dalam mengambil keputusan.

COVID 19 di Klaster Keluarga

Balik lagi ke klaster keluarga, sebagai catatan pribadi maming tuliskan yaaa. Ada 4 hal yang harus diperhatikan -  Covid 19 di Klaster Keluarga.


Keterbukaan
Ketika nggak enak badan, cobalah terbuka. Jujur pada diri sendiri. Apalagi kalau dirasa itu sakitnya merujuk ke ciri-ciri orang sakit covid 19. Sungguh keterbukaan bisa bikin mudah supaya orang lain juga tidak terkena virusnya. Kalau yang lain tau, kita bisa meminta bantuan kepada orang-orang sekeliling yang terdekat. Jadi kalau ada tetangga yang terkena, sebaiknya sikap kita ya support do'a dan kalau ada waktu atau rejeki bisa kirim-kirim makanan atau buah. Jangan malah, dihina dina juga disalahkan.

Cegah-Covid-19-di-Klaster-Keluarga



Eh tapi ada juga yang menutupi karena shock dan nanti takut dihujat? dicap apalah-apalah. Kalau saya pribadi sebagai tetangga insya Allah nggak gitu. Sedih malah kalau tetangganya nggak terbuka pas sakit covid 19. Hmmm. Sekarang semakin banyak berita dan artikel yang mengedukasi masyarakat, yang no hoax, bikin masyarakat makin mengerti. Gimana sih seharusnya kalau orang di lingkungan kita terkena COVID 19. Nggak ada lagi ngusir-ngusir orang sakit, karena orang sakit apa pun sangat butuh dukungan walau kecil.


Mengedukasi Anak
Ini sulit, tapi harus. Menjelaskan dengan alasan kenapa melarang mereka main. Memberi pengertian sampai anak benar-benar sadar dan paham akan keamanan dan perlu menjaga dirinya dalam situasi pandemik seperti sekarang. Klaster keluarga kok bisa? ada juga yang kena karena anaknya main ke rumah tetangga lalu saling membawa virus.  

Cegah-Covid-19-di-Klaster-Keluarga



Yuk, tahan sebentar lagi aja deh dari pada bosen di rumah karena sakit?. Anak-anak di rumah kami pun sama, nggak betah kok. Jadi kalau ada yang bilang anak aku nggak betah di rumah, yaa sama dooong. Penting banget, selama PPKM anak-anak kalau keluar rumah perlu pengawasan orang tua. Misalnya berjemur walau sebentar, ortu harus memberikan pendampingan.


Prokes - Protokol Kesehatan
Kunci dari segala kunci, setelah makan bergizi dan istirahat yang teratur, dokter Tan mengatakan: "Prokes, dan batasi perpindahan." Kalau nggak perlu kemana-mana dan bisa di rumah aja, yaudah deh mending di rumah. Lebih aman. Jadi ingat PROKES, walau kamu udah vaksin lengkap, makanan bergizi, suplemen vitamin sultaaan, tetap PROKES!

Cegah-Covid-19-di-Klaster-Keluarga




Waspada Titik Lengah 
Ada banyak yang membahas tentang titik lengah, mungkin teman-teman udah sering lihat infonya. Masing-masing keluarga punya titik lengah yang berbeda-beda ya. Kalau pak suami kan masih naik KRL ke Jkt, jadi titik lengah bisa dari situ. Sedangkan saya sebagai ibu rumah tangga yang harus terpaksa ke kang sayur, nah titik lengahnya disitu. Masih ada juga titik lengah lain, kalau ada asisten rumah tangga, NAH! harus sering diedukasi nih. 


Cegah-Covid-19-di-Klaster-Keluarga



Mau cerita juga tentang si embak yang sempat sakit dan anosmia tapi beliau nggak dicek positif C19 atau bukan. Waktu itu mbak batuk, saya minta kalau nggak enak badan atau sakit batuk pilek, udah istirahat di rumah sampai sembuh. Nggak usah mikirin kerjaan dulu, biar sama-sama sehat kaaaan. Edukasi ke ART sangat penting supaya mereka tau, kenapa sih nggak boleh kerja dulu. Alhamdulillah setelah 14 hari mbak udah sehat kembali cuma bertanya-tanya aja, apa beliau beneran C19 ya waktu itu. . Tapi yang sedih, sekarang suaminya yang gantian sakit. Lagi-lagi harus single fighting nih. 

Semoga Allah sembuhkan yang sakit ya. Keluarga dan lingkungan selalu sehat. Prokes untuk jaga diri, keluarga dan lingkungan. Teman-teman juga punya cerita tentang klaster keluarga? Sharing yuuk. .
Semoga pandemik juga cepat selesai dan bumi kembali pulih, amiin.

You May Also Like

26 comments

  1. klaster keluarga sekarang emang lagi ramai ya Ci.
    Kakakku juga lagi isoman nih, udah hampir seminggu, bertiga aja itu di rumahnya, huhuh, sedih.
    semoga kita semua dijaga Allah ya Ci, peluuuukkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya Allah moga cpt sehat ya kakak dan keluarga. amiin
      semoga sehat selalu ya dii

      Delete
  2. Kadang orang-orang lengah dengan prokes, terlalu sering mengabaikan.

    ReplyDelete
  3. Kabar kayak gini sudah sering terdengar apalagi klaster keluarga yang sudah marak, ngeri dengernya pastinya harus isoman dan was-was untuk keluarga yang lainnya. Tetap stay in home and stay safe.

    ReplyDelete
  4. Lagi banyak orang sakit nih Mak dan tidak tahu apakah C19 or not.
    Btw, dirimu menuliskan DKI optimis herd immunity dapat tercapai pada Agustus 2021 .. aamiin, semoga tercapai, pada patuh prokes ya? Di kota saya, entah gimana ini, banyak yang pada malas prokesnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyanih mak..
      dari artikel yg ku baca DKI optimis, mudah2an aja nggak sekedar harapan ya.
      Aku dai pinggiran Jkt, selama PPKM agak ketat, jadi masyarakat PROKES nih mak. Memang prokes atas kesadaran itu edukasinya berat yaa hiks, moga sehat selalu aja ya kita amiin

      Delete
  5. Aku lagi kena klaster keluarga nih Mbak...
    Aku, suami dan si bungsu positif, si sulung negatif
    Titik lengah ini yang ga bisa kita ingkari. Suamiku kena, akhirnya di rumah hampir semua kena. Alhamdulilah gejala kami ringan, meski menurutku lumayan karena 5 hari pertama rebahan.
    Syukurnya banyak banget bantuan dari tetangga, kerabat dan teman. Maklum kami perantau ga ada keluarga di Jakarta. Tapi semua tercukupi saat kami isoman. Masya Allah

    ReplyDelete
    Replies
    1. si sulung negatif sendiri yaa..mba Dian semoga lekas sehat lagi sekeluarga amiin. Pasti keluarga nun jauh di sana juga khawatir keadaan mba ya. Alhamdulillah gejala ringan dan banyak yg bantu mba ya.. masya Allah.
      bener mba, titik lengah ini bener2 harus waspada, ikhtiar selalu.

      Delete
  6. Aamiin...
    Saya baru saja selesai isoman dengan suami. Alhamdulillah anak tidak tertular. Padahal dia tidak mau "diungsikan" ke rumah neneknya. Sempat bingung juga. Tapi saya banyak masukan dari teman di dunia Maya. Alhamdulillah mereka menguatkan. Kalau tetangga sih udah jelas pada jauh, maksudnya pada jaga jarak, hehehe...

    Sehat selalu ya Mbak. Aamiin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah teh Okti udah sehat lagi. Aku ngerti anak yg nggak mau diungsikan. Lengket ya sama ortunya ^^
      alhamdulillah teh.. yg penting Allah nggak berjarak ya teh. Sehat selalu juga teh Okti sekeluarga

      Delete
  7. duh ini bener deh kadang ada titik lengah yg kitanya gak ngeh dan gak paham ya. klaster keluarga ini sedih banget benernya, apalagi kalau isoman jadinya harus saling jagain walau badan sendiri rasanya jg pasti ga enak ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah titik lengah susah juga dihindari nih mba.
      Moga sehat selalu ya mbaaaa

      Delete
  8. Semogaaaaa kita semua senantiasa sehaaatt, ya
    mengerikan bgt covid ini.
    apalagi yg varian delta
    gampil bgt nularnya ya mbaaa

    ReplyDelete
  9. Nah anak anak kadang gak disuruh main malah temennya nyamperin, gak di beri izin main ngambek haha bener bener perjuangan ya bund

    ReplyDelete
  10. Amiin...
    Suami kan sempat positif tengah tahun lalu bahkan stelah km vaksin kedua. Tp mmg ga bergelaja sama sekali cm 3 hari swab dan pcr negatif lg. Tp mmg kadang kita suka meremehkan titik lengah yaa.

    ReplyDelete
  11. memang sekarang banyak yg cluster keluarga ya mbak
    harus tetap berjuang isoman bersama
    semoga kita semua sehat sehat ya mbak

    ReplyDelete
  12. Beneran, banyak kisah sedih covid19 gelombang kedua ini karena tak ada kamar di RS ya Allah. Titik lengahku tuh paket, ATM dan iya tukang sayur ya.. Semoga kita semua sehat selalu aamiin

    ReplyDelete
  13. Sekarang buanyak mba klaster keluarga sedih sih kalau udah dapat kabar si A-B positif hingga satu keluarga di rumah bahkan yang bikin nyesek itu saat ortu temenku ga ketolong karena telat kebagian rumkit sementara saturasi udah turun drastis diangka 55 :( sedih

    btw semoga ART dan keluarganya sehat2 ya mba yuk mangat mba karena udah masuk sekolah lagi

    ReplyDelete
  14. Ya Allah, bener banget ini kak Uci..
    Titik lengah itu sebetulnya saat kita belanja, yaa...dengan dalih hanya di depan rumah. Sama kalau ada khadimat yang pulang-pergi ((aku pakai yang begini..)) - dan bisa jadi titik lengah juga niih..

    Jadi kudu taat prokes banget banget, gak boleh malas.
    "Ah...kan cuma beli buah ke Mang Buah yang lewat." Kudu banget taat 5M.

    ReplyDelete
  15. Huhu, lagi banyak ya klaster keluarga ini. Temen-temen kita udah banyak nih yang kena. Keluargaku juga. Sekarang mah udah banyak, jadinya gak perlu malu dan ngerasa aib kalo kena. Jadi mending terbuka. BIar bisa dihindari membesarnya klaster. Mana yang varian Delta ini lebih parah. Semoga keluarga kita semua bisa selalu sehat. Yang sedang sakit, semoga lekas sembuh. Aamiin.

    ReplyDelete
  16. di keluarga yang perlu diedukasi ya ortu maupun saudara lain yang kadang udah lama gak ketemu jadi pengen main ke rumah. Penting banget diedukasi kalau waktunya belum tepat untuk saling bertemu. Semoga kita semua selalu sehat ya mbak dan semua ini lekas berakhir amiin

    ReplyDelete
  17. iya mbaa.. banyak bangeet ya memang kasus yang cluster keluarga seperti iniii.. aku banyak kehilangan teman jugaaa nih huhuhu

    ReplyDelete
  18. bener banget mbak ucig, anak-anak sering terinfeksi covid dari cluster keluarga. karena mereka selama pjj otomatis ga sekolah. keluar rumahpun jarang dong ya. tapi kalau memang sudah kehendakNya positif, kita juga harus tetap berpikiran positif. intinya kalau udah prokes ketat tetap positif, ingat semua karena kehendak yang di atas

    ReplyDelete
  19. Titik lengah keluarga saya yaitu art yang pulang pergi, sama suami yang masih ke masjid... Prokes selalu ketat sih, tapi tetap selalu berdoa semoga Allah melindungi...

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah mampir di maming story. Yuk leave comment. Semoga bermanfaat ^^

Mohon maaf komentarnya dimoderasi dulu ya 🙂
Twitter / IG : @uciggg (sila follow yaa ^^)