Review Buku Hidup Asyik Tanpa Asisten Rumah Tangga

by - January 25, 2021

Gimana rasanya jadi ibu? Wah kayaknya pertanyaan yang memiliki sejuta makna juga jawaban. Menjadi ibu tuh wow banget jungkir baliknya #ehh. Mengurus rumah beserta isinya, dengan tugas yang tidak pernah uwis uwis. Huhuuu. "Ah masih mending lah kamu mah, baru juga segitu anaknya, bla.. bla blaaa.." selalu membandingkan, padahal para ibu harusnya saling support. Banyak bahasan yang seru sih dibanding menjejerkan penderitaan. Eh maaf bukan penderitaan,😆 semua itu adalah cobaan yaa dalam mengurus rumah.




Dalam mengurus rumah pastilah ada rasa lelah, jenuh, ingin lari ke hutan lalu ke pantai. Heheuu. Semua punya ceritanya masing-masing. Jalan kehidupan yang nggak bisa sama. 

Saya sempat membaca buku Hidup Asyik Tanpa Asisten Rumah Tangga. Wow, ini keren karena ada kata 'asyik' di situ. Kok bisa ya terasa asyik? Gimana caranya tetap asyik tanpa ART?

Siapa yang menulis buku "Hidup Asyik Tanpa Asisten Rumah Tangga"?



Jadi buku ini ditulis oleh Efa Refnita, Dian Akbas, dkk. Ibu-ibu hebat, wanita yang tangguh. Masya Allah setelah membaca buku ini saya merasa perjuangan ibu memang begitu adanya, sama walau tidak persis. Nahkan bingung, sama-sama berjuang tapi kisahnya nggak plek ketiplek. Intinya tenang bu, ibu tidak sendirian! Semua ibu itu pejuang. Kan balasannya surga, insya Allah. Ibu bisa mencoba baca buku ini.


Buku yang berisi cerita dan kisah inspiratif sehari-hari. Rata-rata para ibu di buku ini tinggal di  belahan negeri lain karena ikut para suaminya bekerja atau melanjutkan studi di sana juga ada yang menikah dengan warga asing. 


Beberapa ibu yang balik lagi ke Indonesia dan tetap tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Seperti teman saya yang merupakan salah satu penulis cerita di buku tersebut yaitu mbak Nadia Niza. Super mom dari 4 anak ini, saya mengenal beliau lewat komunitas fotografi. Dulu beliau tinggal di Tangsel tapi sekarang sudah hijrah ke Kudus demi dekat orang tua. Masya Allah.


Mbak Nadia dan kawan-kawan tentu ibu yang luar biasa dengan segudang kegiatan masih bisa menyempatkan berbagi pengalaman. Menumpahkan kisah hebatnya melalui buku.


Buku ini membuat saya menjadi semangat lagi. Mendapatkan insight baru dalam pengasuhan anak, greget dalam komunikasi keluarga. Banyak kiat dan tips supaya bekerja sama dengan anak plus suami untuk menjalankan tugas domestik. Lalu mengatasi cara membagi waktu dan tetap bisa produktif. Pentingnya manjemen waktu dan keuangan. Sampai bagaimana sih menjaga kewarasan supaya ibu tetap bahagia sehingga keluarga juga bahagia. Me time yang seperti apakah? Selain tentang family, parenting, di buku ini saya merasa diajak terbang berpindah-pindah tempat, menjelajahi dunia karena latar yang diceritakan penulis berbeda-beda. Ada yang di Jerman, Finlandia, Australia, Amerika, Turki, dan masih banyak lagi. Penasaran kan.


Saya pribadi banyak belajar dari kisah-kisah di buku tersebut. Buat yang sudah jadi ibu atau belum, buku ini patut dibaca oleh semuanya. Kenapa sih? Karena perlunya belajar komunikasi dalam keluarga. Semua berawal dari titik kecil bernama keluarga. Kalau pondasinya dari keluarga sudah kuat insya Allah Indonesia menjadi bangsa yang kuat juga. Ada yang tertarik membacanya? Bisa colek saya ya 😉


Semoga tulisan ini bermanfaat. . 

Baca Juga : Nyaman Tanpa Asisten Rumah Tangga

You May Also Like

22 comments

  1. Wohhhooo mba, seruu ya kalo udah baca cerita nano-nano seputar perjuangan para Ibu.
    Apalagi, buibu yg merantau di LN tuh hebring pisaann
    Kece nih bukunya :D

    ReplyDelete
  2. Nah, yang mengasyikan itu mengurus domestik bisa bareng2 ato pembagian yaa,aku pun gitu di rumah, sedari menikah ga punya asisten tetep asik2 aja, trus disambil kerja juga.
    Ahh beneran cucok buku ini untuk semua kalangan, semoga mengispirasi kisah2nya buat semua yang membacanya.

    ReplyDelete
  3. Wah cerita para ibu tanpa ART dari berbagai negara terkumpul dalam satu buku. Pasti menarik sekali ya. Semoga banyak ibu yang terinspirasi saat membaca buku ini

    ReplyDelete
  4. Waah bukunya Nadia dan temem2 ini ya Chi...
    Emang yaa Klo kyk Nadia mah cekatan bgt urusan domestik dan didik anak. Tetap produktif lg di bidang lainnya.
    Jd pingin baca nih

    ReplyDelete
  5. Sejujurnya saya udah di level kapok punya asisten rumah tangga. Lebih banyak capek hatinya. Tetapi, ya saya juga merasa kadang-kadang keteteran ngurusin rumah. Apalagi kalau mood sedang turun suka berasa baper. Jadi pengen tau juga cara asik tanpa asisten ^_^

    ReplyDelete
  6. Aku pun tanpa asisten rumah tangga di rumah, menjaga dan mendidik 2 orang anak. Jangan ditanya gimana riweuhnya, tapi memang sumber kebahagiaan berasal dari sana..

    ReplyDelete
  7. Bukunya inspiratif nih buat emak2 jado urusan domestik super strong hehehe. Kalau aku sih pake ART yang PP aja jadi ga nginep. Kadang kalau ada orang lain suka kurang bebas sih. Asisten dibutuhin buat nyeterika itu wajib kayaknya hahah :D

    ReplyDelete
  8. bukunya inspiratif,biar emak emak tetap PD dan hepi meski tanpa asisten rumah tangga ya mbak
    aku sendiri selama ini juga nggak pakai art, klo pun butuh biasanya manggil yang harian gitu
    klo pas lagi banyak banget kerjaan rumahnya

    ReplyDelete
  9. Iya ibu merantau jarang ya punya asisten rumah tangga jadi harus setrong mengurus rumah sendirian, beda dengan mamak-mamak di Indonesia punya keleluasaan untuk dibantu ART...seru banget nih kayaknya bukunya..

    ReplyDelete
  10. Asyik bangetlah hidup tanpa Asisten Rumah Tangga, meski tak dapat dipungkiri pernah membantu juga yak

    Tapi aku masih dalam fase bisa handle sendiri, kalau sedang tak sanggup ya, tak ada salahnya juga ya menggunakan ART, tentunya harus siap dengan segala risikonya.

    Semangat ci, kita semua ibu ibu hebat. Sehat sehat ya

    ReplyDelete
  11. Menjadi ibu tanpa asisten rumah tangga itu sesuatu banget dan wow sekali. Terlebih mereka-mereka yang punya anak lebih dari satu, sudah pasti sangat super. Saya yang baru punya anak satu aja rasanya udah jungkir balik gini. Alalagi kayak Mba Nadia dkk, sudah pasti sangat menginspiratif.

    Sudah ada yang tinggal di negeri orang, tanpa keluarga lainnya, tanpa ART. Super dah. Jadi pengen baca bukunya.

    ReplyDelete
  12. Jadi pengen baca juga meski aku pun tanpa ART hehe.. Siapa tahu ya ternyata [engalamannya sama atau ada hal baru lainnya yang bisa diterapkan

    ReplyDelete
  13. Ingin lari ke hutan lalu berlalri ku kok jadi ingat AADC hehehe.
    Tiap ibu punya ceritanya sendiri, gak ada yang sempurna ya. Mau punya asisten atau gak Insya Allah yang terbaik. Aku termasuk yang belum punya asisten juga nih selama nikah.
    Nah para ibu yang tinggak di luar aku salut mereka rajin masak. Kalau di sini aku caoe masak ya beli.

    ReplyDelete
  14. Waah sepertinya banyak kisah menarik di bukunya, apalagi lihat ibu-ibunya banyak yang merantau ke LN. Kebayang rempongnya deh. Tapi salut sih aku sama ibu-ibu tanpa ART di rumahnya.

    ReplyDelete
  15. Wah, sempat baca di timeline beberapa penulis buku ini dan salut saya...
    Dulu saya sempat tinggal 2 tahun di Amerika, anak sulung 4 tahun adiknya 2 bulan saya ajak pindah ke sana ikut suami sekolah. Tanpa ART bisaaa! Ada pengajian di rumah 30 orang pun menu dimasak sendiri semua..hahaha, bikin tempe sendiri dll. Kalau ingat beneran merasa hebat.
    Tapi begitu balik ke Jakarta sempat coba enggak pakai ART akhirnya nyerah juga. Karena di Jakarta jauh dari keluarga besar (enggak ada saudara sama sekali) giliran saya atau anak sakit yang pakai rawat inap , colaps semua...apalagi suami sempat mutasi ke luar negeri.
    Yo wis akhirnya punya ART lagi meski cuma pulang pergi, buat jadi teman sebenarnya...maka awet enggak ganti-ganti

    ReplyDelete
  16. Wow 4 anak dengan kesibukannya tanpa ART. Luar biasa. Aku di rumah aja yang udah pada gede-gede masih pake ART seminggu dua kali. Lumayan ada hari libur dari kerjaan hahaha *intinya pengen santai aja sih ya* TLuar biasa emak-emak ini

    ReplyDelete
  17. Terkadang, hidup tanpa ART tuh emang berasa bener lebih nyaman sih.. tapi sampe saat ini aku masih jadi buibu yang butuh ART siiihhhh.. masih nyaman dengan ART yang udah 10 tahun disini nih.. weheheee

    ReplyDelete
  18. Menarik nih bukunya mba. Jd intinya krn tidak ada asisten rumah tangga maka komunikasinjd lebih tricky dan berwarna warni ya. Keknya aku mesti baca jg nih.

    ReplyDelete
  19. Maasyaa Allah, saya jadi bahagia baca judulnya
    Karena saya juga tanpa ART tapi bahagia saja nih
    Karena semua tergantung respon saat menghadapinya

    ReplyDelete
  20. Aku termasuk yg akhirnya memutuskan ga punya ART Mba dan alhamdulillah udah menjalani lebih dari 7 tahunan ga pake art

    ReplyDelete
  21. Luar biasa ya ibu-ibu itu...the power of emaks. Sungguh mrantasi, apa-apa bisa. Dari menyelelesaikan urusan domestik sampai mencari tambahan rejeki untuk membantu suami...saluut...

    ReplyDelete
  22. Welcome a board, Mak
    Yes, hidup asyik tanpa asisten, kenapa tidak?
    Tentu lengkap dengan plus minusnya ya.

    Bisa gitu bahagia tanpa asisten, Ann?
    Bisa banget!
    Pan bahagia itu kita yang cipta, tsaaah!
    Kalau mau referensi, tinggal mainkan jari, browsing deh.

    Tapi aku percaya,
    Setiap orang punya pilihan, dengan atau tanpa asisten, sama baiknya.
    Tak perlu merasa lebih baik atau lebih bahagia!
    Saling menghormati pilihan dan prioritas.
    Setubuh eh setuju, Mak?

    ReplyDelete

Hai, terima kasih sudah mampir di maming story. Yuk leave comment. Semoga bermanfaat ^^

Mohon maaf komentarnya dimoderasi dulu ya 🙂
Twitter / IG : @uciggg (sila follow yaa ^^)