Ramadan Bersama Rasulullah SAW Dan Para Sahabat RA (Materi Kajian)

Ramadan Bersama Rasulullah SAW Dan Para Sahabat RA (Materi Kajian) ~

Penasaran nggak sih seperti apa ramadan bersama rasulullah? Seperti apa sholat tarawih bersamanya ya. Kalau sholat diimamin sama imam yang bacaannya bagus, bisa bikin tersentuh bahkan menangis meski nggak tau artinya haha. Rasanya giman gitu ya rasa sholatnya. Saya jadi bayangin kata-kata ustad, sholat dipimpin rasul. Bisa-bisa sih kita nangesss juga karena nggak kuat berdirinya. Huhu. Ramadan Bersama Rasulullah ini adalah kajian beberapa minggu lalu di masjid Jami' Al-Ukhuwah Palem Semi Tangerang.




Kalau anak-anak di rumah pernah nanya saat kami mau tarawih berjamaah di rumah uti, kan imamnya adalah om mereka sendiri tuh. "Om upi baca suratnya panjang-panjang nggak miiii...? Ya ternyata kakak suka yang nggak terlalu cepat juga, suka yang sedang aja gitu ritmenya.

Ramadan memang istimewa, apa ada muslim atau muslimah yang nggak antusias? Eh war takjil gimana? haha. Kali ini saya bukan mau ngomongin takjil siii, tapi mau sharing materi kajian kala itu tentang bagaimana sih cerita Ramadan Bersama Rasulullah. Apa aja yang terjadi ketika itu. Yukkkk marii, simak materi kajian singkat selama kurang lebih 2 jam bersama ustad Helmi Imami Yasin, Lc.,MA.


Berburu Kebaikan Bersama Abu Bakar RA

Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa suatu hari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabatnya :


مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ صَائِمًا؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ جَنَازَةً؟ قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، قَالَ : فَمَنْ عَادَ مِنْكُمُ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُوبَكْرٍ : أَنَا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَااجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّادَخَلَ الْجَنَّةَ


‘Siapakah diantara kalian yang berpuasa hari ini?’ Abu Bakar menjawab,’Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Siapakah diantara kalian yang telah mengantar jenazah hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali bertanya, ‘Siapakah diantara kalian yang telah memberi makan orang miskin hari ini?’ Abu Bakar menjawab lagi, ‘Saya.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih bertanya lagi, ‘Siapakah diantara kalian yang telah menjenguk orang sakit hari ini?’ Abu Bakar pun menjawab lagi, ‘Saya.’ Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidaklah amal-amal yang telah disebutkan tadi berkumpul pada satu orang, melainkan ia akan masuk surga.’. [HR. Muslim, no. 1028]


Masya Allah, sahabat rasul bernama Abu Bakar memang top, semuanya diborong beliau. Jadi ketika ditanya siapa yang puasa, yang antar jenazah, yang beri makan orang miskin, yang menjenguk orang sakit, semua itu dilakukan oleh Abu Bakar RA. Sehingga kebaikan-kebaikan apa aja di waktu puasa yang bikin boost amal kita, lakukan yang telah disebutkan dalam hadis di atas.



Mengurangi Tidur dan Banyak Memohon Ampunan


Amalan sunnah Rasulullah SAW di bulan ramadan adalah mengurangi waktu tidur dan memperbanyak istighfar. Begitu juga para sahabat, tidak hanya mengurangi waktu tidur di malam hari, tetapi di siang harinya juga.


Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat ad-Dzariyat:


كَانُوْا قَلِيْلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ


“Mereka sedikit tidur di malam hari. Di waktu sahur mereka beristighfar.” (QS Ad Dzariyat 17-18)


Jangan lupa untuk selalu istighfar di waktu sahur ya.



Sholat Sunnah Fajar dan Sholat Sunnah Syuruq

Amalan sunnah Rasulullah SAW di bulan Ramadan adalah menunaikan ibadah sholat sunnah fajar dan syuruq.


كان الرسول صلى سنة الصبح ركعتين خفيفتين في بيته ثم يصلي الصبح جماعة ، ثم يجلس في المسجد يذكر الله تعالى حتى تطلع الشمس، فينتظر قرابة الثلث ساعة أو يزيد ثم يصلي ركعتين


“Nabi Muhammad SAW biasanya sholat sunnah Subuh dua rakaat yang ringan (singkat) di rumahnya. Kemudian beliau sholat Subuh berjamaah di masjid. Setelah itu duduk berdzikir sampai terbit matahari. Setelah menunggu sekitar sepertiga jam atau lebih sedikit beliau sholat dua rakaat (sholat sunat syuruq atau Dhuha).”


Seperti yang kita telah ketahui, sholat sunnah fajar dan syuruq banyak sekali keutamaannya. Temans bisa konsisten melakukannya ketika ramadan bahkan setiap harinya, kedua sholat ini sangat dianjurkan.



Ramadan Syahrul Quran


Rasulullah SAW Mudarasah Al Quran dan para sahabat Ra fokus membaca serta mengkaji Al-Qur’an


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ


Dari Ibnu Abbas ra, dia berkata, “Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah, dan beliau lebih pemurah lagi ketika bertemu Jibril. Jibril bertemu dengan Nabi setiap malam Ramadan untuk mengkaji/mengulang (mudarasah) Alquran. Sungguh Rasulullah SAW lebih pemurah daripada angin yang bertiup.” (HR Bukhari).


Ada sahabat nabi juga yang selalu interaksi dengan Al-Qur'an seperti Amr bin Al Ash RA, Utsman bin Affan RA.




Menjaga Lisan 


Rasulullah SAW mengarahkan agar di bulan Ramadan menjaga lisan dari menggunjing, bicara kotor, dan hal-hal buruk lainnya.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ سبحانه وتعالى : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ، وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ


Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Allah Swt berfirman (hadits qudsi):


“Setiap amal anak cucu Adam adalah untuknya, kecuali puasa, itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa itu perisai (benteng). Apabila kalian berpuasa maka janganlah berkata kotor dan bersuara keras (berteriak-teriak). Kalau ada yang mengajak bertengkar atau berdebat maka katakanlah: “Aku sedang puasa.” (HR Bukhari)



Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan puasanya sama sekali.


Pelajaran yang didapat dari kedua hadis tersebut adalah, puasa merupakan ibadah spesial, Allah yang akan membalasnya. Saat berpuasa kita dilatih berkata yang baik, menjaga lisan. Bila tidak bisa meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak akan menerima puasanya.




Memperbanyak Sedekah


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَـكُوْنُ فِـيْ رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ ، وَكَانَ جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَلْقَاهُ فِـيْ كُـّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَـيُـدَارِسُهُ الْـقُـرْآنَ ، فَلَرَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْـخَيْـرِ مِنَ الِرّيْحِ الْـمُرْسَلَةِ

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : كُلٌّ امْرِئٍ فىِ ظِلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَّاسِ ، قَالَ يَزِيْد : وَكَانَ أَبُو الْخَيْرِ لاَ يُخْطِئُهُ يَوْمٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ فِيْهِ بِشَيْءٍ وَلَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أَوْ كَذَا


Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya sampai diputuskan perkara manusia.” (HR Ahmad)


Kisah Abdullah ibnu Umar menyiapkan ta’jil, bisa kita contoh yaa. Jadi kalau kita menyiapkan makanan berbuka begitu banyak pahalanya, apalagi bila yang berpuasa itu adalah orang sholeh, taat pada Allah dan dia berbuat baik pada ibu dan bapak, nah pahalanya sampai juga pada kita.




SHALAT MALAM – SHALAT TARAWIH 


Dari Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, Rasulullah SAW melakukan shalat (tarawih) di masjid pada suatu malam. Orang-orang bermakmum kepadanya. Malam berikutnya, Rasulullah SAW kembali shalat tarawih dan jamaahnya semakin banyak. Pada malam ketiga atau keempat, jamaah telah berkumpul, tetapi Rasulullah SAW tidak keluar rumah. Ketika pagi Rasulullah mengatakan, ‘Aku melihat apa yang kalian perbuat. Aku pun tidak ada uzur yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, tetapi aku khawatir ia (shalat tarawih) diwajibkan'," (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Malik dan Ahmad).



§عنعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَه ". (رواه البخاري)

Artinya: “Suatu ketika aku keluar ke masjid bersama Umar Bin Khattab r.a. pada suata malam di bulan Ramadan, sedangkan orang-orang terpisah-pisah, ada yang shalat sendirian ada pula yang shalat kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Kemudian Umar berkata: “Sungguh aku memandang andai aku kumpulkan mereka pada satu Imam tentunya itu lebih baik”. Kemudian beliau mengumpulkan mereka pada Ubay Bin Ka’ab. Kemudian aku keluar bersama Umar pada malam lainya sedangkan orang-orang shalat dengan Imam mereka, kemudian Umar berkata: “Sebaik-baiknya bid’ah adalah ini, sedangkan yang tidur terlebih dahulu kemudian bangun beribadah di akhir malam itu lebih utama dari pada yang melakukannya di awal malam”. (HR. AlBukhari)


Umar bin Al-Khattab memerintahkan Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad-Dari untuk mengimami manusia (shalat tarawih) Beliau melanjutkan : “Dan kala itu, seorang qari/imam biasa membaca ratusan ayat sehingga kami terpaksa bertelekan pada tongkat kami karena terlalu lama berdiri. Lalu kami baru bubar shalat menjelang fajar



عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُصَيْفَةَ عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ قَالَ : كَانُوا يَقُومُونَ عَلَى عَهْدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ فِى شَهْرِ رَمَضَانَ بِعِشْرِينَ رَكْعَةً - قَالَ - وَكَانُوا يَقْرَءُونَ بِالْمِئِينِ، وَكَانُوا يَتَوَكَّئُونَ عَلَى عُصِيِّهِمْ فِى عَهْدِ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ شِدَّةِ الْقِيَامِ. أخرجه البيهقي

Dari al-Sa’ib bin Yazid, beliau berkata: “Para Sahabat di masa Umar bin khattabr.a. melakukan qiyamullail(beribadah di tengah malam) di bulan Ramadlan 20 rakaat dengan membaca 200 ayat, sedangkan pada masa Utsman r.a. mereka bersandar pada tongkat karena lamanya berdiri”. (HR. Al Baihaqi )



As-Sayyid Muhammad As-Syathiri dalam Syarah Yaqut-nya sebagai berikut:

وَأَقَلُّ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَانِ، وَأَكْمَلُهَا عِشْرُوْنَ. وَقَالَ مَالِكٌ: سِتَةٌ وَثَلَاثُوْنَ وَهُوَ عَمَلُ أَهْلِ المَدِيْنَةِ، وَقَالُوا: إِنَّهُمْ أَرَادُوا مُسَاوَةَ أَهْلِ مَكَّةَ، لِأَنَّهُمْ يَطُوْفُوْنَ سَبْعًا بَيْنَ كُلِّ تَرْوِيْحَتَيْنِ، فَجَعَلَ أَهْلُ المَدِيْنَةِ مَكَانَ كُلِّ سَبْعٍ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ. شرح الياقوت النفيس: 194

Paling sedikitnya rakaat Tarawih 2 rakaat, sedangkan yang paling sempurna 20 rakaat. Dan Imam Malik berkata: 36 rakaat dan itulah yang dilakukan Ahli Madinah, ulama’ Malikiyyah mengatakan: “Ahli Madinah berkehendak menyamakan ibadahnya dengan Ahli Makkah, sebab Ahli Makkah melakkukan thawaf tujuh kali putaran di antara dua tarwihan (dua istirahatan), kemudian Ahli Madinah menjadikan posisi setiap tujuh kali putaran dengan melakukan shalat 4 rakaat”. (Muhammad As-Syathiri, Syarah Al-Yaqut An-Nafis, hal. 194).



Konsisten, Istiqamah, Meningkatkan Amal Shaleh


Memperbanyak Ibadah di Sepuluh Hari Terakhir Ramadan


عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً

Dari Aisyah ra, dia berkata, “Rasulullah SAW apabila mengerjakan sesuatu beliau konsisten (menetapinya). Apabila beliau tertidur di malam hari atau sakit beliau (menggantinya dengan) mengerjakan sholat sunnah dua belas rakaat di siang hari.” (HR Muslim)


Rasulullah SAW meningkatkan ibadah shalat malam dan membangunkan keluarganya.

قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ

Aisyah ra berkata, “Rasulullah SAW bersungguh-sungguh melakukan ibadah di sepuluh terakhir melebihi malam-malam lainnya.” (HR Muslim)


وقَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Ummul Mukminin Aisyah ra juga berkata, “Ketika masuk sepuluh terakhir, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghidupkan seluruh malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari )



§ إِنِّي اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوَّلَ، أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ، ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ، ثُمَّ أُتِيتُ، فَقِيلَ لِي: إِنَّهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ، فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَه

“Sesungguhnya aku itikaf di sepuluh pertama Ramadan untuk mencari Lailatul Qadar. Setelah itu aku juga itikaf di sepuluh kedua (pertengahan). Kemudian aku diberi tahu bahwa Lailatul Qadar itu di sepuluh terakhir. Maka siapa yang ingin itikaf maka lakukanlah.” Akhirnya banyak orang yang itikaf bersama Nabi SAW.” (HR Muslim).


Semakin menuju hari-hari terakhir malah semakin meningkatkan ibadah.



Cara Mencegah Penyakit Musiman, Futur 

Dari Abdullah bin Amr RA bahwa Rasulullah SAW Bersabda :  


«إن لكل عمل شرة، ولكل شرة فترة. فمن كانت فترته إلى سنتي فقد أفلح. ومن كانت فترته إلى غير ذلك فقد هلك.

Sesungguhnya setiap amalan itu punya masa semangat, dan setiap masa semangat itu punya masa malas. Maka barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada apa yang dianjurkan, maka sungguh dia telah beruntung. Dan barangsiapa masa malasnya itu (diarahkan) kepada yang selain itu maka sungguh dia telah binasa. ( HR. Ahmad )


  • Arahkan kepada amal ibadah yang lain 
  • Kurangi porsi Ibadah yang memberatkan, sesuaikan dengan kemampuan


الحديث متفق عليه، ولفظ البخاري: (خذوا من العمل ما تطيقون، فإن الله لا يمل حتى تملوا)

  • Bersihkan kotoran hati dengan Dzikir – Istighfar
  • Berdoa kepada Allah 
  • Perbaharui niat, bangun amal ibadah pelan-pelan
  • Jangan hiasi dengan maksiat baru

Ada kalanya semangat dan kadang ada rasa malas itu datang. Hal ini juga pernah dialami pada zaman dulu dan ini tuh normal. Makanya ada hadisnya juga kayak yang di atas itu yaa. Bisa dicoba dengan mengarahkan ibadah yang lain, misalnya awal-awal mematok 2 juz, dan cuma bisa 1 juz hari itu, bisa diganti dengan dzikrullah ya. Yaaa pokoknya jangan sampai terperosok sekali.  Lakukan langkah-langkah di atas ya. Sekian dulu postingan dari materi kajian subuhnya, semoga bisa semangat lagi ya menuju 10 hari terakhirnya. Semoga bermanfaat.

Komentar